Hari ini adalah hari bersejarah bagi bangsa Indonesia. 48 tahun yang lalu, tepatnya tanggal 11 Maret 1966, Presiden pertama Ir. Sukarno, mengeluarkan Surat Perintah Sebelas Maret kepada Mayor Jendral Suharto, dalam rangka pemulihan keamanan berkaitan dengan Pembrontakan G-30 S PKI.
Teringat tanggal hari ini, 11 Maret dan Mengenang 48 tahun yang
lalu bangsa ini….. Hari itu menjadi sangat bersejarah bagi perkembangan
Republik ini…… Bagaimana tidak, pada hari itu lahir suatu tonggak dimana
kekuasaan Orde lama yang dipimpin oleh Soekarno harus mengakui kekuatan
Soeharto yang nantinya memimpin periode Orde baru bangsa Indonesia….Tonggak
bersejarah tersebut adalah Supersemar (Surat Perintah Sebelas Maret)……
Supersemar adalah surat perintah
yang ditandatangani oleh Presiden Republik Indonesia Soekarno pada tanggal 11
Maret 1966. Surat “sakti” ini berisi perintah yang menginstruksikan Soeharto,
selaku Panglima Komando Operasi Keamanan dan Ketertiban/Pangkopkamtib (saat
itu) untuk mengambil segala tindakan yang dianggap perlu dalam mengatasi
situasi keamanan yang buruk pada saat itu.
KELUARNYA
SUPERSEMAR :
Menurut versi resmi, awalnya keluarnya supersemar terjadi ketika pada tanggal
11 Maret 1966, Presiden Soekarno mengadakan sidang pelantikan Kabinet Dwikora
yang disempurnakan yang dikenal dengan nama “kabinet 100 menteri”. Pada saat
sidang dimulai, Brigadir Jendral Sabur sebagai panglima pasukan pengawal
presiden’ Tjakrabirawa melaporkan bahwa banyak “pasukan liar” atau “pasukan tak
dikenal” yang belakangan diketahui adalah Pasukan Kostrad dibawah pimpinan
Mayor Jendral Kemal Idris yang bertugas menahan orang-orang yang berada di
Kabinet yang diduga terlibat G-30-S di antaranya adalah Wakil Perdana Menteri I
Soebandrio.
Berdasarkan laporan tersebut,
Presiden bersama Wakil perdana Menteri I Soebandrio dan Wakil Perdana Menteri
III Chaerul Saleh berangkat ke Bogor dengan helikopter yang sudah disiapkan.
Sementara Sidang akhirnya ditutup oleh Wakil Perdana Menteri II Dr.J. Leimena
yang kemudian menyusul ke Bogor.
Situasi ini dilaporkan kepada
Mayor Jendral Soeharto (yang kemudian menjadi Presiden menggantikan Soekarno)
yang pada saat itu selaku Panglima Angkatan Darat menggantikan Letnan Jendral
Ahmad Yani yang gugur akibat peristiwa G-30-S/PKI itu. Mayor Jendral (Mayjend)
Soeharto saat itu tidak menghadiri sidang kabinet karena sakit. (Sebagian
kalangan menilai ketidakhadiran Soeharto dalam sidang kabinet dianggap sebagai
sekenario Soeharto untuk menunggu situasi. Sebab dianggap sebagai sebuah
kejanggalan).
Mayor Jendral Soeharto mengutus
tiga orang perwira tinggi (AD) ke Bogor untuk menemui Presiden Soekarno di Istana
Bogor yakni Brigadir Jendral M. Jusuf, Brigadir Jendral Amirmachmud dan
Brigadir Jendral Basuki Rahmat. Setibanya di Istana Bogor, pada malam hari,
terjadi pembicaraan antara tiga perwira tinggi AD dengan Presiden Soekarno
mengenai situasi yang terjadi dan ketiga perwira tersebut menyatakan bahwa
Mayjend Soeharto mampu mengendalikan situasi dan memulihkan keamanan bila
diberikan surat tugas atau surat kuasa yang memberikan kewenangan kepadanya
untuk mengambil tindakan. Menurut Jendral (purn) M Jusuf, pembicaraan dengan
Presiden Soekarno hingga pukul 20.30 malam.
Presiden Soekarno setuju untuk
itu dan dibuatlah surat perintah yang dikenal sebagai Surat Perintah Sebelas
Maret yang populer dikenal sebagai Supersemar yang ditujukan kepada Mayjend
Soeharto selaku panglima Angkatan Darat untuk mengambil tindakan yang perlu
untuk memulihkan keamanan dan ketertiban.
Surat Supersemar tersebut tiba di
Jakarta pada tanggal 12 Maret 1966 pukul 01.00 waktu setempat yang dibawa oleh
Sekretaris Markas Besar AD Brigjen Budiono. Hal tersebut berdasarkan penuturan
Sudharmono, dimana saat itu ia menerima telpon dari Mayjend Sutjipto, Ketua G-5
KOTI, 11 Maret 1966 sekitar pukul 10 malam. Sutjipto meminta agar konsep
tentang pembubaran PKI disiapkan dan harus selesai malam itu juga. Permintaan
itu atas perintah Pangkopkamtib yang dijabat oleh Mayjend Soeharto. Bahkan
Sudharmono sempat berdebat dengan Moerdiono mengenai dasar hukum teks tersebut
sampai Supersemar itu tiba.
KONTROVERSI
SUPERSEMAR :
Namun, perlu diketahui bahwa munculnya supersemar saat itu pada akhirnya saat
ini dan sampai detik ini menjadi sangat kontroversial, bahkan merupakan satu
dari dua sejarah Indonesia yang masih gelap selain Peristiwa Gerakan 30
September 1965. Menarik untuk diketahui beberapa kontroversial yang
muncul…..beberapa kontroversi tersebut: adalah…..
Kontroversi Pertama :
Kontroversi Pertama adalah tentang proses penyusunan dan
penyerahan surat tersebut yang terkesan tidak wajar. Surat tersebut dibuat
bukanlah atas inisiatif dan kemauan Soekarno sendiri. Tahun 1998, anggota
Cakrabirawa Letnan Dua (Purn) Soekardjo Wilardjito mengaku bahwa Jenderal
Panggabean menodongkan pistolnya kepada Presiden Soekarno, dengan kata lain
penugasan tersebut (baca : pengalihan kekuasaan dari Soekarno kepada Soeharto)
diberikan dalam keadaan terpaksa. Pada gilirannya, orang bisa menduga bahwa
pada bulan Maret 1966 itu terjadi semacam kudeta.
Kontroversi Kedua :
Kontroversi Kedua adalah tentang pengetik Supersemar. dalam hal ini muncul
pengakuan Letkol (Purn) TNI - AD Ali Ebram, staff Asisten I Intelejen Resimen
Cakrabirawa bahwa dia yang mengetik surat tersebut. Surat tersebut diketik
dalam waktu satu jam dengan didiktekan oleh Bung Karno. Ia mengetik dengan
gemetar dan mengatakan bahwa konsep itu berasal dari Soekarno Sendiri.
Sebagai orang yang tidak biasa mengetik, ia mengerjakannya
Kontroversi Ketiga :
Kontroversi Ketiga adalah terkait hilangnya dokumen supersemar itu sendiri.
Kontroversi ini muncul dari Ben Anderson, pakar Amerika yang pernah dicekal
masuk Indonesia oleh rezim Orde Baru. Ia mengutip pengakuan seorang tentara
yang mengaku waktu itu bertugas di Istana Bogor. Tidak dijelaskan nama dan
pangkat tentara tersebut oleh Anderson, tetapi ia merasa yakin atas pengakuan
tentara tersebut. Tentara tersebut menyatakan bahwa surat perintah yang asli
itu sengaja dihilangkan karena diketik dengan menggunakan kop Markas Besar
Angkatan darat (MBAD). Maksudnya adalah jika surat itu dipertahankan tentu akan
menjadi sangat lucu, surat kepresidenan ditulis dengan kertas berkop MBAD. Jadi
Surat tersebut sengaja “dihilangkan” bukan karena isi tetapi karena kop
suratnya.
Sumber : -Wikipedia.com
Untuk memperingati SUPER SEMAR dan persiapan TPM UN tingkat Propinsi, INI ADA SOAL MATEMATIKA SUPER SEMAR 2014,
DAN ini LEMBAR JAWAB, akan ditutup pukul:19.00. WIB 11 Maret 2014
DAN ini LEMBAR JAWAB, akan ditutup pukul:19.00. WIB 11 Maret 2014